Rempah-rempah, adalah komoditas khas yang
memiliki ciri khusus pada harumnya yang sangat menawan dan rasanya yang kuat
"menyala" di lidah. Bahkan, pada abad pertengahan di Eropa harganya
jauh lebih menawan dari sekedar kepingan emas. hal ini karena perjalanan
fenomenal yang harus dilewati rempah-rempah dari negeri-negeri Timur yang jauh
untuk akhirnya dapat tersaji di depan meja para kaisar Eropa.
Sebagai contoh adalah perjalan
epik dari cengkeh Maluku yang harus melewati ribuan tangan untuk akhirnya dapat
sampai ke dapur mewah di Benua Putih tersebut. Cengkeh dari petani Maluku
perama-tama akan dikumpulkan oleh para pengepul lokal. Setelah itu, cengkeh
dijual kepada para tengkulak dari Jawa dan Sumatera. Cengkeh itu kemudian
dibawa ke pelabuhan-pelabuhan ramai di Aceh, Lampung maupun Sunda Kelapa. Setelah
itu, cengkeh dibawa dari pelabuhan-pelabuhan tradisional itu melalui orang arab
menuju pelabuhan di Laut Merah ataupun orang india yang membawanya ke Malabar.
Dari sini, perjalanan pnjang masih berlanjut melewati teriknya gurun padang
pasir yang membawa mereka ke pasar-pasar di Timur Tengah. Dalam perdagangan
disana, tangan-tangan kepemilikan barang silih berganti sepanjang rute
perjalanan yang terus berjalan tanpa henti. Dari sini, barulah para pedagang
dari Persia dan Byzantium kemudian membawa muatan cengkeh itu berpindah benua
ke daratan Eropa.
Karena panjangnya jalan yang harus dilalui
dan banyaknya perpindahan tangan yang dilakukan, harganyapun menjadi kian
melambung tinggi tak terkendali. Satu fakta yang lebih mencengangkan dari berbagai
mitos menggelikan yang turut hadir dari kemisteriusan tempat asal rempah-rempah
itu bagi orang eropa. para pedagang eropa dan orang-orang eropa pada saat itu
belum mengetahui secara pasti asal muasal barang yang mereka bawa itu. Sehingga
memunculkan berbagai mitos tentang rempah-rempah yang sering muncul pada
karangan sastra abad pertengahan. Hal yang paling gila adalah pada saat itu
banyak orang yang berkhayal menganggap rempah-rempah adalah buah yang turun
dari negeri dongeng yang penuh fantasi. Lebih parahnya, banyak orang yang
mempercayai dongeng tersebut sebagai fakta. Memuakkan tapi itulah
kenyataaannya.
Abad pertengahan eropa memang bukanlah
saat yang ramah terhadap pengetahuan. Seseorang bahkan akan mudah dicap sebagai
penyihir hanya karena ia dapat membuat kembang api. Tapi dari itu semua,
rempah-rempah menjadi komoditas mahal nan mewah yang hanya tersaji pada piring
emas para raja. Dan untuk orang yang lain, mungkin hanya khayalan yang tersisa tentangnya. Namun jangan
khawatir karena ini semua segera berakhir dengan adanya Renaisans.
Pelayaran samudera mulai mengungkap tabir
kemisteriusan rempah-rempah dan mitos tentang rempah pun mulai luntur. Memang
agaknya itu terasa sangat terlambat, mengingat para pedagang islam dan China telah
jauh lebih dahulu mengenal tempat asal rempah dari pada orang-orang Eropa.
Namun setelah keberhasilan pelayaran samudra yang dilakukan orang Eropa, itu
sangat berpengaruh terhadap peta politik dan ekonomi dunia yang berubah pesat.
Sumber: Turner, Jack, 2011, Sejarah
Rempah, Diterjemahkan oleh:Julia Absari, Jakarta: Komunitas Bambu