Laman

Minggu, 01 Oktober 2017

Kilauan Rempah, Emas di Negeri Timur nan Jauh

Rempah-rempah, adalah komoditas khas yang memiliki ciri khusus pada harumnya yang sangat menawan dan rasanya yang kuat "menyala" di lidah. Bahkan, pada abad pertengahan di Eropa harganya jauh lebih menawan dari sekedar kepingan emas. hal ini karena perjalanan fenomenal yang harus dilewati rempah-rempah dari negeri-negeri Timur yang jauh untuk akhirnya dapat tersaji di depan meja para kaisar Eropa. 
Sebagai contoh adalah perjalan epik dari cengkeh Maluku yang harus melewati ribuan tangan untuk akhirnya dapat sampai ke dapur mewah di Benua Putih tersebut. Cengkeh dari petani Maluku perama-tama akan dikumpulkan oleh para pengepul lokal. Setelah itu, cengkeh dijual kepada para tengkulak dari Jawa dan Sumatera. Cengkeh itu kemudian dibawa ke pelabuhan-pelabuhan ramai di Aceh, Lampung maupun Sunda Kelapa. Setelah itu, cengkeh dibawa dari pelabuhan-pelabuhan tradisional itu melalui orang arab menuju pelabuhan di Laut Merah ataupun orang india yang membawanya ke Malabar. Dari sini, perjalanan pnjang masih berlanjut melewati teriknya gurun padang pasir yang membawa mereka ke pasar-pasar di Timur Tengah. Dalam perdagangan disana, tangan-tangan kepemilikan barang silih berganti sepanjang rute perjalanan yang terus berjalan tanpa henti. Dari sini, barulah para pedagang dari Persia dan Byzantium kemudian membawa muatan cengkeh itu berpindah benua ke daratan Eropa.
Karena panjangnya jalan yang harus dilalui dan banyaknya perpindahan tangan yang dilakukan, harganyapun menjadi kian melambung tinggi tak terkendali. Satu fakta yang lebih mencengangkan dari berbagai mitos menggelikan yang turut hadir dari kemisteriusan tempat asal rempah-rempah itu bagi orang eropa. para pedagang eropa dan orang-orang eropa pada saat itu belum mengetahui secara pasti asal muasal barang yang mereka bawa itu. Sehingga memunculkan berbagai mitos tentang rempah-rempah yang sering muncul pada karangan sastra abad pertengahan. Hal yang paling gila adalah pada saat itu banyak orang yang berkhayal menganggap rempah-rempah adalah buah yang turun dari negeri dongeng yang penuh fantasi. Lebih parahnya, banyak orang yang mempercayai dongeng tersebut sebagai fakta. Memuakkan tapi itulah kenyataaannya.
Abad pertengahan eropa memang bukanlah saat yang ramah terhadap pengetahuan. Seseorang bahkan akan mudah dicap sebagai penyihir hanya karena ia dapat membuat kembang api. Tapi dari itu semua, rempah-rempah menjadi komoditas mahal nan mewah yang hanya tersaji pada piring emas para raja. Dan untuk orang yang lain, mungkin hanya khayalan  yang tersisa tentangnya. Namun jangan khawatir karena ini semua segera berakhir dengan adanya Renaisans.
Pelayaran samudera mulai mengungkap tabir kemisteriusan rempah-rempah dan mitos tentang rempah pun mulai luntur. Memang agaknya itu terasa sangat terlambat, mengingat para pedagang islam dan China telah jauh lebih dahulu mengenal tempat asal rempah dari pada orang-orang Eropa. Namun setelah keberhasilan pelayaran samudra yang dilakukan orang Eropa, itu sangat berpengaruh terhadap peta politik dan ekonomi dunia yang berubah pesat.



Sumber: Turner, Jack, 2011, Sejarah Rempah, Diterjemahkan oleh:Julia Absari, Jakarta: Komunitas Bambu